Lewat Sepak Bola, Uni Papua FC Satukan Harapan di Perbatasan Thailand dan Myanmar

2026-02-14 17:23:33 By Ziga

Uni Papua FC yang berdiri sejak 2013 terus memperluas kiprahnya dalam gerakan sepak bola sosial ke berbagai penjuru dunia. Sejak 2017, komunitas ini konsisten mengampanyekan Football for Peace sebagai sarana membangun karakter generasi muda melalui olahraga.

 

Pada 13–15 Februari 2026, Uni Papua FC ambil bagian dalam ajang Mae Sariang Friendship Tour di Mae Sariang, kawasan perbatasan Thailand–Myanmar. Partisipasi ini menjadi langkah strategis untuk memperluas gaung pesan perdamaian lewat sepak bola di Asia Tenggara.

 

Dalam kegiatan tersebut, Uni Papua FC menurunkan tiga pelatih terbaiknya: Frans Gasper Paraibabo (lisensi AFC B) sebagai pelatih kepala, Willy Gultom (lisensi PSSI C), serta Hirma Sjarif yang berperan sebagai pelatih utama perempuan sekaligus sekretaris umum. Ketiganya terlibat langsung dalam sesi pelatihan dan pendampingan.

 

Keikutsertaan ini merupakan tindak lanjut undangan dari Joe Manickam, pendiri Arelti—sebuah NGO berbasis di Kansas, Amerika Serikat. Undangan tersebut bertujuan menghadirkan pengalaman Uni Papua FC untuk berbagi metode pelatihan kepada guru, pelatih sepak bola, dan pelajar di wilayah perbatasan.

 

CEO Uni Papua FC, Harry Widjaja, menegaskan bahwa keterlibatan ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang organisasi dalam mendorong sepak bola sebagai medium resolusi konflik dan penguatan komunitas.

 

“Gerakan Sepak Bola Perdamaian yang kami jalankan mendapat perhatian berbagai organisasi dunia. Tiga pelatih kami membawakan materi tentang resolusi konflik, pengembangan komunitas, toleransi, hingga pembentukan karakter melalui sepak bola,” ujar Harry.

 

Libatkan Tujuh Organisasi

 

Mengusung tema One Game, One Community, One Shared Future, kegiatan ini turut melibatkan tujuh organisasi lain, termasuk aparat Polisi Perbatasan dan Imigrasi Thailand, Midian Leadership, Arelti, serta sejumlah lembaga lokal Thailand.

 

Lebih dari 300 peserta ambil bagian, mulai dari siswa sekolah dasar dan menengah, guru, pelatih olahraga, hingga para pendidik setempat. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa sepak bola mampu menjadi bahasa universal yang melampaui batas negara.

 

Pembina Uni Papua FC, Abdurrahman M. Fachir, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata kepedulian untuk menanam benih perdamaian. Ia menilai kolaborasi lintas negara dan organisasi tersebut sebagai praktik konkret diplomasi olahraga.

 

“Kegiatan ini mencerminkan semangat persaudaraan dan kepedulian dalam menyemai perdamaian. Interaksi antarorganisasi dari berbagai negara adalah bagian penting dari sports diplomacy,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, Uni Papua FC sejak 2017 juga menjalin kolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Festival Football for Peace International di Jakarta, yang pernah melibatkan perwakilan dari 24 negara.

 

Dukungan dan Inspirasi

 

Harry Widjaja turut menyampaikan apresiasi kepada KBRI Bangkok serta mitra CSR seperti Silverstream Sehat dan TDR Motor atas dukungan mereka dalam pengiriman tim pelatih ke Thailand.

 

Ia berharap langkah ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak di Indonesia untuk terlibat dalam gerakan perdamaian melalui sepak bola.

 

Sementara itu, Joe Manickam mengapresiasi kontribusi Uni Papua FC sepanjang kegiatan. Ia menyebut paparan program dan pendekatan yang dibagikan mampu memberi inspirasi bagi para pemimpin komunitas setempat.

 

Menurutnya, banyak talenta muda di kawasan tersebut yang belum mendapat akses pengembangan memadai. Kehadiran Uni Papua FC bahkan disebut telah memberi dampak positif sebelum lokakarya utama digelar.

 

“Paparan mereka sangat menginspirasi para pemimpin di sini. Bahkan sebelum lokakarya dimulai, dampaknya sudah terasa,” ungkapnya.

 

Dari Papua untuk Asia Tenggara, Uni Papua FC membuktikan bahwa sepak bola bukan sekadar permainan—melainkan jembatan harapan, persaudaraan, dan masa depan bersama.

EMASPUTIHTOTO