Tiga Poin Evaluasi Barcelona Seusai Kekalahan di La Liga 2025-2026

2026-02-17 13:37:00 By Ziga

FC Barcelona kembali tersandung saat melawat ke kandang Girona FC pada jornada ke-24 La Liga 2025–2026. Bermain di Montilivi, Selasa (17/2/2026) dini hari WIB, Blaugrana menyerah 1-2 dan harus rela kehilangan posisi puncak klasemen. Kini mereka tertinggal dua angka dari rival abadi, Real Madrid.

 

Kekalahan ini datang hanya berselang beberapa hari setelah dihajar Atletico Madrid 0-4 pada leg pertama semifinal Copa del Rey 2025-2026—hasil yang disebut pelatih Hansi Flick sebagai “pelajaran besar”. Dua hasil buruk beruntun tersebut memperjelas adanya persoalan mendasar yang tak bisa lagi ditutup-tutupi.

 

Meski sempat unggul lewat sundulan Pau Cubarsi, Barcelona gagal menjaga momentum. Girona membalas melalui Thomas Lemar sebelum Fran Beltran memastikan kemenangan tuan rumah pada menit ke-86. Malam itu makin pahit karena Lamine Yamal gagal menuntaskan penalti—simbol dari problem efektivitas yang kembali menghantui.

 

Berikut tiga pelajaran penting yang harus segera dibenahi Barcelona jika tak ingin tercecer dalam perburuan gelar.



1. Pertahanan yang Kehilangan Keseimbangan

Lini belakang menjadi sorotan tajam. Penjaga gawang Joan Garcia secara terbuka mengakui tim terlalu mudah memberi ruang bagi lawan menciptakan peluang. Banyaknya penyelamatan, menurutnya, bukan sesuatu yang patut dibanggakan—melainkan tanda bahaya.

Di sektor kiri, performa Alejandro Balde yang inkonsisten membuka peluang bagi Gerard Martin untuk merebut tempat utama. Di sisi berlawanan, Flick masih harus memilih komposisi ideal antara Jules Kounde dan Joao Cancelo.

Meramu keseimbangan lini belakang kini menjadi pekerjaan rumah mendesak. Tanpa fondasi defensif yang solid, ambisi mempertahankan gelar hanya akan menjadi wacana.


2. Peluang Terbuang, Harga yang Terlalu Mahal

Dominasi tak berarti apa-apa tanpa efektivitas. Barcelona melepaskan 27 tembakan, dua di antaranya membentur tiang pada babak pertama, namun hanya satu yang berbuah gol. Angka-angka itu menggambarkan satu hal: ketajaman yang tumpul.

Yamal memang tampil berani, tetapi kerap memilih penyelesaian spektakuler alih-alih opsi sederhana yang lebih rasional. Penalti yang gagal menjadi titik balik yang menyakitkan. Namun masalah ini bukan miliknya semata—ini adalah persoalan kolektif.

Di level tertinggi, setiap peluang yang terbuang bisa berujung hukuman. Flick harus segera membenahi efektivitas di sepertiga akhir jika tak ingin skenario serupa terulang.


3. Mentalitas Juara yang Memudar

Lebih dari sekadar taktik dan teknis, kekalahan ini menyingkap isu mentalitas. Barcelona tak bisa hanya mengandalkan reputasi besar untuk memenangkan pertandingan. Gelar diraih lewat konsistensi, determinasi, dan keberanian menjaga keunggulan.

Saat ini, terlalu banyak momen ketika intensitas menurun dan fokus goyah. Standar klub sebesar Barcelona menuntut performa maksimal setiap pekan—tanpa kompromi.

Flick menghadapi tantangan besar untuk menghidupkan kembali karakter juara dalam timnya. Tanpa mentalitas baja dan konsistensi penuh, perjalanan menuju trofi akan semakin terjal.

Montilivi menjadi cermin keras bagi Barcelona. Bukan sekadar soal kalah 1-2, tetapi tentang peringatan bahwa kesalahan kecil, peluang terbuang, dan mental yang rapuh bisa menggagalkan ambisi besar.

 
EMASPUTIHTOTO